TERNATE — Dalam forum bertajuk "Ternate Kota Rempah dan Gastronomi", Rizal memaparkan bahwa gastronomi bisa menjadi jalan mengoptimalkan potensi lokal sekaligus menguatkan pariwisata dan ekonomi daerah. City branding "Ternate Kota Rempah" yang sudah bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual sejak 2022 dinilainya harus diwujudkan lewat produk unggulan, pengalaman kuliner, dan kesejahteraan masyarakat.
Hadir dalam acara itu akademisi, peneliti, dan mahasiswa. Rizal menempatkan rempah bukan sebagai warisan masa lalu semata.
"Rempah bukan hanya bagian dari sejarah masa lalu. Kita harus mengubah kekayaan lokal ini menjadi identitas, pengalaman kuliner, serta manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat, petani, nelayan, dan pelaku UMKM," kata Rizal.
Rizal menyebut pengembangan gastronomi Ternate bertumpu pada tiga potensi utama. Pertama, rempah seperti cengkeh, pala, kunyit, jahe, dan lada yang menjadi kekuatan identitas lewat aroma, cita rasa, dan sejarah perdagangan.
Kedua, hasil laut dan perikanan. Perairan Ternate yang membentang lebih dari 5.500 kilometer persegi dinilai menyimpan peluang diversifikasi produk olahan ikan untuk menaikkan nilai tambah.
Ketiga, pangan tradisional yang perlu dijaga melalui pewarisan resep dan pengetahuan lokal antargenerasi. Inovasi kemasan dan penyajian dibutuhkan agar daya tarik produk meluas tanpa menghilangkan keasliannya.
"Rempah memberikan karakter pada makanan, sedangkan gastronomi menjelaskan bagaimana rempah tersebut digunakan, diwariskan, dan dikembangkan menjadi peluang ekonomi berkelanjutan," ujarnya.
Pengembangan gastronomi, menurut Rizal, butuh kolaborasi lintas sektor lewat pendekatan hexa-helix. Pendekatan itu melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis dan UMKM, komunitas, media, serta agregator platform.
Kolaborasi tersebut menghubungkan potensi pangan lokal dengan riset, inovasi produk, promosi, distribusi, hingga perluasan akses pasar. Sebagai Sekda, Rizal menyatakan Pemkot Ternate siap mengoordinasikan kerja lintas perangkat daerah.
Program pariwisata, kebudayaan, perdagangan, UMKM, pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan akan diselaraskan. Menurut Rizal, keberhasilan gastronomi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan atau event.
"Ukuran keberhasilan agenda ini bukan sekadar banyaknya acara, melainkan meningkatnya mutu produk, terbukanya akses pasar, naiknya pendapatan pelaku usaha, serta tumbuhnya kebanggaan warga terhadap pangan lokal," jelas mantan Kepala Bappeda Kota Ternate tersebut.
Rizal mengajak akademisi dan perguruan tinggi, khususnya PATPI, menghubungkan riset dan inovasi teknologi pangan dengan kebutuhan nyata pelaku usaha serta perkembangan pasar. Penerapan hasil penelitian dinilai dapat meningkatkan kualitas, nilai tambah, dan daya saing produk pangan lokal.
Dampaknya diharapkan membuka peluang usaha lebih luas bagi masyarakat. Rizal menutup paparannya dengan menempatkan gastronomi sebagai jembatan antara sejarah panjang rempah Ternate dan kesejahteraan warga.
"Ternate tidak hanya memiliki sejarah panjang tentang rempah. Melalui gastronomi, kita dapat menghadirkan masa depan yang sejahtera bagi masyarakat Kota Ternate," tutup mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate itu.