Pabrik Pipa Seamless Pertama RI Beroperasi, Tekan Impor 600.000 Ton

Penulis: Indra Firmansyah  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:51:01 WIB
Pabrik pipa seamless pertama di Indonesia resmi dioperasikan secara terbatas di Kompleks Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2026).

MALUKU UTARA — PT Artas Energi Petrogas bersama Inerco meresmikan soft launching pabrik pipa seamless pertama di Indonesia di Kompleks Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2026). Pabrik ini menjadi jawaban atas ketergantungan impor pipa nasional yang mencapai 600.000 ton per tahun. Kehadirannya diharapkan memperkuat TKDN dan mendorong substitusi impor di sektor migas dan panas bumi.

Pabrik pipa seamless pertama di Indonesia resmi beroperasi secara terbatas. Fasilitas produksi PT Artas Energi Petrogas dan Inerco itu berdiri di Kompleks Krakatau Steel, Cilegon, Banten. Soft launching digelar Selasa (20/10/2026) dan disaksikan langsung oleh pengembang panas bumi se-Indonesia, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Staf Ahli Menteri ESDM Anwar, serta lembaga sertifikasi TKDN.

Selama bertahun-tahun, kebutuhan pipa nasional yang mencapai 600.000 ton per tahun sebagian besar dipenuhi dari impor pipa mentah atau green pipe oleh trader Oil Country Tubular Goods (OCTG). Pola itu membuat nilai tambah produksi pipa lebih banyak dinikmati di luar negeri.

Mengapa Pabrik di Cilegon Disebut Penting

Pabrik Artas-Inerco memproses baja billet menjadi pipa seamless di dalam negeri. Produknya telah mengantongi sertifikasi internasional API 5L, API 5CT, dan API Q1. Sertifikasi itu menjadi syarat utama agar pipa bisa dipakai di proyek migas dan panas bumi.

Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah konkret substitusi impor sekaligus penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selama ini, pipa untuk sektor migas dan panas bumi masih banyak didatangkan dari luar negeri.

Pakar Panas Bumi sekaligus Dosen Magister EBT Universitas Darma Persada, Riki F. Ibrahim, menilai pemerintah harus berpihak pada produsen lokal. Menurut dia, persaingan antara pabrikan dalam negeri dan trader impor perlu dijembatani lewat kebijakan yang jelas.

"Jangan adu pabrikan lokal dengan trader impor. Jika prioritas hak impor diberikan kepada yang punya pabrik di Indonesia, nilai tambah akan maksimal tinggal di dalam negeri," tegas mantan Dirut PT Geo Dipa Energi (2016-2022) itu.

Kepastian Pasar Jadi Kunci Investasi Hilirisasi

Riki yang juga Ketua Pjs Dewan Pengawas METI menambahkan, kepastian pasar dari pemerintah akan menjadi kunci tumbuhnya investasi hilirisasi. Kehadiran pabrik ini dinilainya sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto soal TKDN dan agenda hilirisasi yang digenjot Menko Hilirisasi yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

"Kalau dialog seperti ini sering dilakukan, hilirisasi akan tumbuh masif. Pengusaha butuh kepastian bahwa investasinya akan diserap pasar nasional," ujarnya.

Dari sisi pelaku usaha, perusahaan EPC dan pengembang panas bumi menyambut positif kehadiran pabrik ini. Dengan supervisi Kementerian ESDM, kualitas dan ketersediaan pasokan dinilai lebih terjamin dibanding mengandalkan impor.

Langkah Berikutnya: Baja Billet Mandiri

Manajemen Artas dan Inerco menegaskan agenda jangka pendek mereka adalah memproduksi baja billet secara mandiri. Langkah itu dinilai realistis mengingat melimpahnya bahan baku bijih besi dan coking coal di Indonesia.

Jika rantai pasok dari hulu bisa dikuasai, pabrik pipa seamless di Cilegon berpeluang menekan biaya produksi sekaligus mempercepat pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Pabrik ini menjadi ujian awal bagi agenda hilirisasi baja dan penguatan TKDN di sektor energi.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top