IvyBears Melaju ke Cannes Usai Viral di YouTube, Siapkan Film Animasi

Penulis: Kemal Batubara  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:20:01 WIB
IvyBears dikembangkan dari merek vitamin anak menjadi proyek animasi yang dipresentasikan di MIPJunior dan Cannes.

MALUKU UTARA — IvyBears, merek vitamin anak asal Malta, mencuri perhatian di ajang MIPJunior dan Cannes lewat proyek animasi yang lahir dari strategi pemasaran terbalik. Moontrail Animation Studios, rumah produksi di baliknya, memproduksi episode 12 menit hanya dalam dua pekan dengan tim inti 20 orang. Proyek ini dikembangkan pendiri Kaan Haylaz bersama anaknya, Pars, yang menjadi titik awal berdirinya merek tersebut.

Kaan Haylaz, pendiri sekaligus CEO Moontrail Animation Studios yang berbasis di Malta, membawa IvyBears dari rak apotek ke layar animasi. Pria berlatar pendidikan teater dan film itu mengaku cinta permen gummy sejak kecil justru mengantarnya ke kesuksesan komersial. Dari situ lahir merek vitamin IvyBears yang kini berubah menjadi kekayaan intelektual hiburan.

Perjalanan IvyBears tidak dimulai dari ruang rapat perusahaan. Haylaz bercerita, semuanya berawal dari misi pribadinya membantu sang anak, Pars, yang saat itu kesulitan menghadapi makanan. Upaya tersebut perlahan tumbuh menjadi merek konsumen internasional, lalu berkembang menjadi IP hiburan lewat apa yang ia sebut sebagai "strategi roda gila terbalik".

Dari Merek Vitamin ke Karakter Animasi

Haylaz menyebut IvyBears bukan merek konsumen yang tiba-tiba melirik dunia hiburan. "IvyBears tidak pernah sekadar merek konsumen yang tiba-tiba memutuskan merambah ke dunia hiburan," ujarnya kepada Variety dalam wawancara daring usai MIPJunior. "Dalam banyak hal, ceritanya justru dimulai dari arah sebaliknya, dan anak saya, Pars, yang akhirnya menyatukan dua dunia ini."

Dalam model bisnis yang lazim, perusahaan hiburan lebih dulu menciptakan karakter, membangun audiens, lalu memonetisasi lewat produk dan merchandise. Haylaz sengaja membalik urutan itu. Bukan karena hiburan jadi prioritas nomor dua, melainkan karena alasan personal yang kuat mendorongnya memulai dari produk.

Sejak awal, ia memang membayangkan gummy-nya sebagai pahlawan super. Karakter yang sama muncul di label produk sekaligus di narasi animasi. "Bayangkan seorang anak menonton IvyBears di televisi, membangun koneksi emosional dengan karakter-karakternya, lalu mengenali pahlawan yang sama di produk di supermarket atau apotek," kata Haylaz. "Hiburan dan produk konsumen tidak lagi dua bisnis terpisah. Keduanya menjadi bagian dari semesta yang sama."

Karakter Bergaya "A-Team" yang Tidak Manis-manis Amat

Haylaz menegaskan, konten berkualitas tetap jadi kompas utama. Ia menilai anak-anak adalah penonton yang jauh lebih cerdas daripada yang sering dianggap orang dewasa. Karakter berwarna cerah saja tidak cukup membangun koneksi emosional.

Ia pun menghindari karakter "lucu dan menggemaskan" yang terlalu mudah ditebak. "Saya melihat IvyBears sebagai pertemuan antara 'A-Team' dan 'Angry Birds'. Sekelompok karakter khas dengan sifat unik: mereka membela kebaikan, tapi senang menghukum yang jahat, karena itu sikap mereka bukan manis-manis, melainkan sangat percaya diri," jelasnya.

Untuk menghidupkan karakter-karakter itu, Haylaz memakai alat kecerdasan buatan yang tetap dipandu talenta manusia. Ia terbuka soal pendekatan ini. Menurutnya, AI bukan sutradara, melainkan alat di tangan pembuat film. Arahan kreatif, penceritaan, keputusan emosional, dan penilaian artistik tetap tanggung jawab manusia sepenuhnya.

Produksi Cepat dengan Tim Ramping

Pendekatan tersebut membuat Moontrail menekan biaya dan mempercepat produksi. Studio ini mampu menyelesaikan episode animasi berdurasi 12 menit dalam waktu sekitar dua pekan. Tim tetapnya tergolong ramping, sekitar 20 orang penuh waktu, dengan latar belakang penceritaan atau film.

Haylaz menyoroti perubahan besar yang dibawa AI bukan sekadar kecepatan. Menurutnya, AI membuat produksi film independen terjangkau pada skala yang sama sekali berbeda. "Dan itu mengubah siapa yang bisa bercerita," ujarnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa membuat animasi dengan AI generatif semudah mengetik beberapa perintah. Menjaga konsistensi karakter, lingkungan, pencahayaan, identitas visual, dan performa emosional sepanjang satu episode adalah pekerjaan besar.

Dengan infrastruktur ritel internasional yang sudah dimiliki IvyBears, Moontrail berpeluang menjangkau konsumen lebih luas begitu karakter-karakternya matang. Haylaz membayangkan Moontrail dan IvyBears tumbuh menjadi studio animasi multi-IP, tempat hiburan dan produk konsumen berjalan sebagai satu semesta yang sama.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top