Penggiat Budaya Afrika Selatan Zahira Asmal Kunjungi FIB Unkhair Ternate, Telusuri Jejak Tuan Guru di Cape Town

Penulis: Hendri Saputra  •  Kamis, 24 September 2026 | 06:16:31 WIB
Zahira Asmal disambut Dekan FIB Unkhair Nurain Jalaluddin beserta jajaran dosen Ilmu Sejarah di Ternate.

TERNATE — Kedatangan Zahira Asmal disambut Dekan FIB Unkhair Nurain Jalaluddin beserta jajaran dosen Ilmu Sejarah, di antaranya Umi Barjiah dan Nurachman Iriyanto. Agenda utama kunjungan ini adalah mempererat kembali hubungan sejarah dan akar budaya yang menghubungkan Afrika Selatan dengan Indonesia, khususnya Maluku Utara.

Hubungan Cape Town dan Maluku Utara terjalin kuat melalui sosok Tuan Guru atau Syekh Yusuf, Imam Abdullah ibn Qadi Abdus Salam. Tokoh asal Tidore itu diasingkan kolonial Belanda ke Cape Town pada abad ke-18 dan menjadi pilar penting penyebaran Islam serta peletak fondasi komunitas Muslim di Afrika Selatan.

Mengapa Tuan Guru Menjadi Simpul Sejarah Dua Benua

Dekan FIB Unkhair menilai narasi sejarah Tuan Guru tidak boleh berhenti sebagai catatan masa lalu. Menurutnya, kisah itu harus terus dihidupkan melalui riset lintas negara.

"Kami sangat menyambut baik kedatangan Zahira Asmal di FIB Unkhair. Hubungan historis antara Tidore, Ternate, dan Cape Town melalui sosok Tuan Guru adalah warisan luar biasa. Kunjungan ini membuka peluang besar untuk kolaborasi akademik, penelitian bersama, serta pertukaran budaya antarbangsa," ujarnya.

Dosen Ilmu Sejarah FIB Unkhair, Umi Barjiah, menekankan pentingnya melihat jejak Tuan Guru dari perspektif global. Nilai keilmuan dan ketahanan masyarakat Maluku Utara, katanya, memberi pengaruh besar di belahan dunia lain.

"Jejak Tuan Guru di Cape Town memproyeksikan bagaimana nilai-nilai keilmuan dan ketahanan masyarakat Maluku Utara memberi pengaruh besar di belahan dunia lain. Penelitian bersama ini akan memunculkan sudut pandang baru yang lebih kaya bagi mahasiswa dan peneliti di Unkhair," kata Umi.

Menyambungkan Arsip Lokal dengan Sejarah Diaspora

Dosen Ilmu Sejarah Nurachman Iriyanto menyoroti masih banyaknya masyarakat yang belum menyadari kedalaman pengaruh tokoh Nusantara di Afrika Selatan. Dialog budaya ini dinilai menjadi momen penting merekonstruksi ingatan kolektif kedua bangsa.

"Banyak masyarakat kita yang belum menyadari seberapa dalam pengaruh tokoh-tokoh Nusantara di Afrika Selatan. Melalui dialog bersama Zahira, kami berharap dapat menjembatani arsip-arsip sejarah lokal dengan sejarah diaspora di Cape Town," harapnya.

Dari sisi Zahira, kunjungan ke Ternate menjadi bagian penting dari perjalanan risetnya. Ia menegaskan Tuan Guru bukan hanya tokoh sejarah bagi Indonesia, tetapi juga pahlawan dan simbol identitas bagi warga Cape Town.

"Datang ke Ternate dan berdiskusi dengan para akademisi di FIB Unkhair adalah bagian penting dari perjalanan riset saya. Tuan Guru bukan hanya tokoh sejarah bagi Indonesia, tetapi juga pahlawan dan simbol identitas bagi kami di Cape Town. Saya ingin memastikan ikatan ini terus terjaga dan dipahami oleh generasi muda di kedua negara," ungkap Zahira.

Pameran di Erasmus Huis Jakarta Oktober-Desember 2026

Zahira saat ini tengah menyiapkan pameran terbarunya yang dijadwalkan berlangsung Oktober hingga Desember 2026 di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran itu akan menampilkan ragam dokumentasi, arsip, dan narasi visual mengenai keterkaitan budaya serta sejarah antara Afrika Selatan dan Indonesia.

Kunjungan ke FIB Unkhair menjadi salah satu pijakan penting sebelum pameran digelar. Kolaborasi riset antara akademisi Unkhair dan jaringan Designing South Africa diharapkan menghasilkan temuan baru soal jejak diaspora Maluku Utara di Cape Town.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top