DPRD Kalteng Soroti Harga BBM Eceran Tinggi dan Antrean Panjang di Puruk Cahu

Penulis: Kemal Batubara  •  Rabu, 23 September 2026 | 19:04:31 WIB
Anggota DPRD Kalteng Sirajul Rahman meninjau kondisi SPBU saat reses di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya.

MALUKU UTARA — Anggota DPRD Kalimantan Tengah dari Dapil IV, Sirajul Rahman, menemukan harga bahan bakar minyak eceran yang tinggi serta antrean panjang di SPBU saat reses di Kota Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya. Dua persoalan itu disebut paling mencolok dari hasil penyerapan aspirasi masyarakat setempat. Warga dilaporkan sudah memadati sekitar SPBU sejak malam sebelum jam pelayanan dibuka.

Menurut Sirajul, dua hal yang paling menonjol selama menyerap aspirasi warga adalah mahalnya harga BBM eceran dan sulitnya memperoleh bahan bakar di SPBU resmi. Kondisi itu, katanya, membuat masyarakat mengalami kesulitan berarti untuk memenuhi kebutuhan harian.

Harga Eceran Jadi Keluhan Pertama Warga Puruk Cahu

Sirajul menyebut harga BBM di tingkat pengecer sebagai persoalan pertama yang langsung terlihat di lapangan. Keluhan itu muncul berulang dari warga yang ditemuinya selama reses.

"Ya, pertama yang kami lihat kemarin itu yang nampak sekali adalah berkaitan dengan tingginya harga BBM di eceran," kata Sirajul Rahman, Rabu, 23 September 2026.

Harga yang lebih tinggi dari ketentuan resmi membuat sebagian warga Murung Raya harus merogoh kocek lebih dalam. Persoalan ini bukan kali pertama muncul di wilayah pedalaman Kalteng yang jarak tempuh ke SPBU terdekat cukup jauh.

Antrean Kendaraan Dimulai Sebelum SPBU Buka

Keluhan kedua menyangkut antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU. Sirajul mengatakan antrean itu membuat warga makin sulit mendapatkan bahan bakar.

"Yang kedua, antrean yang sangat panjang, sehingga menyebabkan susah untuk mendapatkan bahan bakar minyak. Itu yang paling berpengaruh kemarin yang nampak," ujarnya.

Kondisi paling mencolok terjadi sebelum jam pelayanan resmi dibuka. Kendaraan roda dua maupun roda empat sudah memadati sekitar SPBU sejak malam atau dini hari.

"Iya. Sudah duluan mobil, sepeda motor parkir. Ketika buka SPBU, langsung antre panjang," tuturnya.

Permintaan Naik, Pasokan Diduga Tak Bertambah

Sirajul menduga lonjakan permintaan bahan bakar menjadi pemicu utama antrean panjang. Sementara pasokan yang tersedia di lapangan dinilai belum naik sebanding dengan laju permintaan warga.

"Tapi, kalau kemungkinan besar itu memang tingkat permintaan BBM itu semakin tinggi, ya, semakin tinggi sepertinya. Bisa jadi pasokannya konstan saja," kata Sirajul.

Karena kebutuhan mendesak, warga membeli jenis BBM apa pun yang tersedia dan mudah diperoleh, baik Pertalite maupun Pertamax. Menurut Sirajul, pilihan warga lebih ditentukan oleh ketersediaan di lapangan ketimbang preferensi jenis bahan bakar.

"Iya, masyarakat ini sebenarnya karena sangat membutuhkan bahan bakar, ya, jadi bahan bakar apa pun, ada Pertamax, ada Pertalite, itu yang dibeli mereka," jelasnya.

Belum Ada Data Pergeseran Konsumsi BBM

Sirajul mengaku belum bisa memastikan apakah terjadi pergeseran konsumsi dari satu jenis BBM ke jenis lain di Murung Raya. Meski begitu, ia menilai pola di lapangan menunjukkan warga selalu mengandalkan bahan bakar yang paling mudah didapat dan terjangkau harganya.

"Kalau perpindahan-perpindahan itu kita tidak tahu persis, ya, tapi nyatanya seperti itu. Mana yang lebih mudah didapatkan, mungkin yang terjangkau harganya itu yang mereka pakai," pungkasnya.

Temuan reses ini akan menjadi bahan pembahasan DPRD Kalteng untuk mendorong perbaikan distribusi BBM di wilayah pedalaman. Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari Pertamina maupun Dinas ESDM Kalteng soal pasokan di Murung Raya.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: beritasampit.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top