Pertamina Patra Niaga Pakai PLTS-PLTB Irigasi Sawah Cilacap, Hemat Rp9 Juta

Penulis: Kemal Batubara  •  Sabtu, 12 September 2026 | 08:49:32 WIB
Petani memanfaatkan sistem irigasi berbasis PLTS-PLTB di Kalijaran, Cilacap, Jawa Tengah.

JAKARTA — Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN) menjadi kanal Pertamina Patra Niaga mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di sektor pertanian. Program ini menyatukan energi terbarukan dengan pengelolaan pertanian dari hulu ke hilir di Kalijaran, Cilacap, Jawa Tengah.

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati menyatakan pemanfaatan energi terbarukan diarahkan agar memberi manfaat nyata dan berkelanjutan bagi warga. Di Kalijaran, kata dia, energi terbarukan diintegrasikan dengan kebutuhan pertanian mulai dari irigasi, produksi pangan, pengelolaan limbah, sampai pengembangan usaha masyarakat.

"Kami ingin pemanfaatan energi terbarukan memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Di Kalijaran, energi terbarukan kami integrasikan dengan kebutuhan pertanian, mulai dari irigasi, produksi pangan, pengelolaan limbah, hingga pengembangan usaha masyarakat," ujar Dian dalam keterangan pers, Jumat (11/9/2026).

Irigasi Hibrida Gantikan Pompa Diesel

MAPAN lahir untuk menjawab sejumlah persoalan warga, terutama keterbatasan irigasi, minimnya modernisasi dan diversifikasi usaha tani, serta tekanan perubahan iklim terhadap produktivitas pertanian. Inovasi yang dipilih berupa sistem irigasi berbasis energi hibrida yang menggabungkan PLTS dan PLTB.

Fasilitas itu punya total kapasitas 15.250 Wp. Dalam operasinya, sistem mampu mengalirkan air rata-rata 150.000 liter per hari untuk mendukung irigasi persawahan dan hortikultura.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan ini menekan emisi sekitar 2.860 kilogram CO2e per tahun. Bagi petani, dampaknya terasa langsung pada kantong: biaya operasional pompa diesel berkurang hingga Rp9 juta dalam dua kali siklus tanam.

Dari Gabah sampai MPASI

Pengembangan MAPAN memakai konsep integrasi pertanian hulu-hilir. Rantainya mulai dari produksi padi, pengolahan gabah menjadi beras, pemanfaatan dedak sebagai pakan dan pupuk, hingga pengolahan limbah pertanian menjadi pupuk.

Warga tidak berhenti di padi. Mereka juga menggarap hortikultura, perikanan, dan budidaya bebek. Diversifikasi produk ikut jalan, mencakup keripik, telur asin, beras, dan makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Langkah Pertamina Patra Niaga ini memperlihatkan pola TJSL yang menyambungkan target transisi energi dengan kebutuhan ekonomi warga desa. Bagi Cilacap, kombinasi PLTS-PLTB dan pertanian terpadu berpotensi menjadi contoh bagaimana energi bersih dipakai bukan sekadar untuk pembangkit, tetapi juga untuk menjaga pasokan air dan produksi pangan.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top