MALUKU UTARA — Indonesia hidup di atas cincin api, dan konsekuensinya bukan sekadar bencana. Jejak letusan gunung di kepulauan ini justru merembet jauh ke Eropa, memicu perubahan sosial dan melahirkan penemuan yang tak terduga. Dari novel horor klasik hingga kendaraan roda dua, semua punya kaitan dengan abu vulkanik Nusantara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, per Selasa (8/9/2026) pukul 07.45 WIB, masih ada lima gunung berstatus Level II atau Waspada. Mereka adalah Anak Krakatau (Lampung), Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur), Merapi (Yogyakarta), Semeru (Jawa Timur), dan Sinabung (Sumatera Utara). Status ini mengingatkan kita pada rentetan erupsi yang tak hanya berdampak lokal, tapi juga global.
Letusan Gunung Tambora pada 1815 menjadi titik balik. Abu vulkanik yang menyelimuti atmosfer menyebabkan "tahun tanpa musim panas" di belahan bumi utara pada 1816. Gagal panen melanda Eropa dan Amerika, memicu kelaparan massal.
Dalam suasana mencekam itulah Mary Shelley menulis Frankenstein saat berlibur di Swiss. Cuaca dingin dan gelap memaksanya dan teman-temannya berlindung di dalam rumah, tempat mereka berlomba membuat cerita horor. Hasilnya, novel yang kelak menjadi legenda.
Di sisi lain, kelangkaan pangan mendorong Karl Drais, penemu asal Jerman, menciptakan laufmaschine atau cikal bakal sepeda. Karena kuda mati kelaparan dan gandum langka, manusia butuh alat transportasi yang tak bergantung pada hewan. Inovasi ini lahir dari tekanan krisis.
Kini, perhatian tertuju pada Anak Krakatau. Letusannya menyedot perhatian karena melanda pusat perekonomian. Abu letusan mencapai Jakarta, membatasi aktivitas masyarakat dan sempat melumpuhkan Bandara Soekarno-Hatta serta Halim Perdanakusuma. Keduanya kini telah beroperasi kembali melayani seluruh rute penerbangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai dampak ekonomi dari bencana alam ini belum terlalu signifikan. Efeknya hanya berlangsung hitungan hari, tidak seperti krisis berkepanjangan yang dialami Eropa dua abad silam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gunung berapi Indonesia adalah kekuatan yang tak bisa diremehkan. Dari letusan Tambora yang mengubah iklim dunia hingga Anak Krakatau yang mengganggu penerbangan modern, setiap erupsi punya cerita. Bagi traveler, memahami sejarah dan status gunung aktif menjadi bekal penting sebelum menjelajah destinasi vulkanik di Nusantara.
Informasi status gunung terkini dapat dipantau melalui kanal resmi Kementerian ESDM atau Badan Geologi. Selalu patuhi rekomendasi radius aman yang ditetapkan petugas. Erupsi adalah pengingat bahwa keindahan alam Indonesia datang bersama kekuatan purba yang harus dihormati.