MALUKU UTARA — Tekanan untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) lokal di industri kendaraan listrik kembali mengemuka. Irsan Sosiawan Gading menyampaikan hal tersebut saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI ke fasilitas PT BYD Auto Indonesia di Subang, Selasa (08/09/2026).
Irsan mengapresiasi capaian TKDN BYD yang saat ini berada di angka sekitar 40 persen. Namun, ia menilai pencapaian tersebut harus berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi oleh pekerja Indonesia agar tidak terjadi ketergantungan pada pihak luar.
Komisi XII DPR RI menargetkan peningkatan TKDN hingga 80 persen. Irsan menegaskan bahwa target tersebut harus dibarengi dengan penguatan kemampuan pekerja lokal, bukan hanya sekadar menambah volume produksi atau investasi.
“Transfer teknologi harus tetap kita utamakan, terutama pekerja-pekerja lokal. Kita harus mendorong agar transfer knowledge ini berjalan dan tidak terjadi ketergantungan kepada pihak luar,” ujar Irsan dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan, keberadaan pabrik BYD di Subang patut dibanggakan. Namun, kehadiran industri ini idealnya memberikan manfaat ganda: lapangan kerja dan peningkatan penguasaan teknologi oleh SDM Indonesia.
Fasilitas BYD di Subang saat ini mempekerjakan sekitar 5.000 orang. Rencananya, jumlah tersebut akan ditingkatkan secara signifikan hingga mencapai sekitar 20.000 orang seiring dengan ekspansi kapasitas produksi.
Pada tahap awal, sejumlah tenaga ahli dan engineer dari China masih dilibatkan untuk proses transfer pengetahuan. Di sisi lain, sekitar 500 pekerja lokal telah dikirim untuk menjalani pembelajaran transfer knowledge di luar negeri.
“Tadi kita sudah dipaparkan bahwa sekitar 500 pekerja lokal belajar untuk mendapatkan transfer knowledge. Nantinya mereka diharapkan menjadi pekerja utama di BYD,” imbuh Irsan.
Irsan menegaskan Komisi XII DPR RI akan mengawal proses ini. Ia menilai tenaga kerja asing masih diperlukan, terutama untuk posisi engineer yang berkaitan dengan teknologi kendaraan listrik yang masih baru berkembang di Indonesia.
“Kami berharap mayoritas pekerja nantinya berasal dari tenaga kerja lokal. Sementara tenaga kerja asing tetap dibutuhkan, khususnya untuk mendukung proses transfer teknologi dan penguasaan teknologi kendaraan listrik yang masih tergolong baru di Indonesia,” jelasnya.
Target komposisi pekerja lokal di fasilitas tersebut mencapai 80 persen. Sisanya dapat diisi tenaga asing pada posisi spesifik seperti engineer untuk mendukung penguasaan teknologi baru.
“Targetnya jelas, sekitar 80 persen harus pekerja lokal. Sisanya bisa dari pihak luar, terutama untuk engineer karena ini merupakan teknologi baru yang memang harus benar-benar dikuasai,” tutup Irsan.