BRIN dan Unkhair Petakan Legenda Putri Dehegila di Morotai, DPRD Dorong Cerita Rakyat Jadi Modal Ekonomi Kreatif

Penulis: Hendri Saputra  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:28:31 WIB
Peneliti BRIN dan Universitas Khairun memaparkan perkembangan riset pemetaan cerita rakyat Putri Dehegila dalam diskusi bersama DPRD Kabupaten Pulau Morotai.

DARUBA — Tim peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN bersama Universitas Khairun (Unkhair) memetakan keragaman cerita rakyat di Pulau Morotai, Maluku Utara. Hasilnya, legenda Putri Dehegila masih dikenal luas, tetapi tidak lagi diceritakan secara utuh. Sebagian warga hafal tokoh-tokohnya; lainnya hanya pernah mendengar nama Putri Dei atau Kapita Sopi tanpa memahami jalan ceritanya.

Pada Selasa (18/8/2026), tim peneliti menyampaikan perkembangan riset ke kantor DPRD Kabupaten Pulau Morotai. Diskusi di ruang rapat komisi itu tidak hanya membahas pelestarian budaya, tetapi juga membuka persoalan mendasar: siapa sebenarnya orang Morotai.

Identitas Morotai yang Tidak Tunggal

Dalam pertemuan itu, seorang anggota DPRD menyebut komposisi penduduk Morotai saat ini majemuk. Masyarakatnya banyak berasal dari pendatang, terutama Tobelo dan Galela, serta dihuni kelompok Bugis, Buton, Ternate, dan Tidore.

Morotai adalah ruang perjumpaan berbagai kelompok etnis dengan sejarah migrasi panjang. Identitasnya tidak sederhana—ia terbentuk dari pengalaman sosial yang berbeda-beda. Cerita rakyat bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan ingatan kolektif yang tersebar.

Versi Lain Kapita Sopi: Tabatuku dan Jejak Migrasi dari Ternate

Diskusi di DPRD memunculkan versi lain mengenai Kapita Sopi. Salah satu anggota dewan menyebut Kapita Sopi memiliki nama asli Tabatuku, sosok bertubuh raksasa. Istilah "sopi" menurut penuturan itu berkaitan dengan kata "seppi" yang merujuk pada batas atau perbatasan.

Ia juga mengaitkan kelompok Sopi dengan orang Galela yang datang dari Kesultanan Ternate bersama keluarga ke Morotai untuk mencari penyu. Peneliti menilai informasi ini penting: satu legenda menyimpan lapisan sejarah migrasi, hubungan antarkelompok, dan mobilitas masyarakat di Maluku Utara.

Cerita rakyat berfungsi sebagai arsip ingatan yang hidup melalui tuturan, bukan sekadar dokumen tertulis. Ia merekam dinamika kekuasaan, batas wilayah, dan perjumpaan antarbudaya yang tidak tercatat dalam sumber resmi.

Cerita Rakyat Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Temuan di lapangan memperlihatkan cerita rakyat berpotensi dikembangkan bersama sumber daya lokal, salah satunya kelapa. Komoditas yang selama ini menjadi sumber ekonomi masyarakat dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti virgin coconut oil (VCO).

Pengembangan produk itu bisa dihubungkan dengan narasi budaya dalam legenda, misalnya simbol kecantikan Putri Dehegila atau kekuatan Kapita Sopi. Dengan demikian, cerita rakyat tidak lagi ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi produk budaya dan ekonomi kreatif masyarakat Morotai.

Mengapa Penulisan Sejarah Lokal Menjadi Strategis?

Keragaman etnis di Morotai menghadirkan tantangan tersendiri. Ketika berbagai kelompok memiliki ingatan, asal-usul, dan klaim identitas yang berbeda, sejarah masa lalu berpotensi menjadi sumber perpecahan apabila tidak dikelola secara dialogis.

Pihak DPRD memandang penelitian cerita rakyat oleh BRIN dan Unkhair memiliki arti strategis. Penulisan sejarah lokal yang berangkat dari cerita rakyat dinilai mampu mempertemukan berbagai identitas yang hidup di Morotai, bukan menegaskan siapa yang paling asli atau paling berhak atas sebuah identitas.

Di titik inilah riset cerita rakyat memperoleh relevansi sosial yang luas. Kisah tentang Putri Dehegila, Putri Dei, Kapita Sopi, atau Tabatuku tidak semata-mata berbicara tentang tokoh legenda, tetapi juga tentang migrasi, perjumpaan etnis, sumber daya alam, dan cara masyarakat membangun identitas bersama.

Kritik Pembangunan: Infrastruktur Tanpa Pengembangan Kapasitas

Persoalan kebudayaan berkelindan dengan persoalan pembangunan. Dalam diskusi bersama DPRD, muncul kritik bahwa pembangunan ekonomi di Morotai selama ini masih bertumpu pada infrastruktur fisik.

Infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan fisik tidak otomatis meningkatkan ekonomi masyarakat apabila tidak diikuti pengembangan kapasitas dan produk lokal. Riset ini diharapkan menjadi pijakan agar pembangunan di Morotai tidak hanya membangun beton, tetapi juga membangun kesadaran budaya dan kemandirian ekonomi warganya.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top