Tesla dan SpaceX Resmikan Pabrik Chip “Terafab” di Texas, Investasi Awal Capai Rp 277 Triliun

Penulis: Galih Prayoga  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:01:31 WIB
Tesla dan SpaceX resmikan pabrik chip "Terafab" di Texas dengan investasi awal US$16,8 miliar.
Elon Musk mengamankan pasokan komputasi masa depan secara mandiri. ISI:

MALUKU UTARA — Rencana ambisius Elon Musk untuk menguasai pasokan chip kecerdasan buatan (AI) akhirnya menemui titik terang. Setelah berbulan-bulan menjadi spekulasi, Tesla dan SpaceX mengonfirmasi pembangunan pabrik semikonduktor "Terafab" di Grimes County, Texas, utara Houston. Pengumuman ini disampaikan langsung melalui laman resmi SpaceX pada Kamis lalu.

Musk, yang menjabat CEO di kedua perusahaan, menyebut fasilitas ini akan menjadi "bangunan terbesar dan paling bernilai di dunia". Target produksinya bukan sekadar chip biasa, melainkan chip canggih untuk komputasi tepi dan inferensi AI. Chip ini akan dipakai di perangkat keras seperti robot Optimus dan mobil otonom Cybercab.

Skala Raksasa dan Dampaknya ke Ekonomi Lokal

SpaceX merinci bahwa pabrik ini akan memiliki ruang manufaktur lebih dari 100 juta kaki persegi. Angka tersebut setara dengan lebih dari 1.700 kali luas lapangan sepak bola standar. Dalam satu lokasi terintegrasi, proses produksi, pengemasan, hingga pengujian perangkat logika dan memori canggih akan dilakukan. Pendekatan ini disebut perusahaan untuk mempercepat inovasi dan memangkas waktu produksi.

Investasi awal yang digelontorkan mencapai US$16,8 miliar. Namun, dokumen pengajuan SpaceX menyebut total pengeluaran jangka panjang proyek ini bisa menembus US$119 miliar atau sekitar Rp 1.963 triliun dalam skema konstruksi multi-fase. Pembangunan tahap pertama diprediksi menyerap setidaknya 3.000 tenaga kerja dari Grimes County dan Brazos County sekitarnya.

Menariknya, Intel juga dikabarkan akan berkontribusi dalam proyek Terafab. Namun, hingga berita ini diturunkan, raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat itu belum membeberkan detail kontribusi mereka secara transparan.

Mengapa Musk Butuh Pabrik Chip Sendiri?

Langkah ini bukan tanpa alasan. Visi Musk tentang masa depan—di mana jutaan robot menggantikan pekerjaan manusia, robotaxi mengemudi tanpa pengemudi, dan satelit berfungsi sebagai pusat data untuk pelatihan AI—membutuhkan daya komputasi yang fenomenal. Kapasitas produksi chip global saat ini dinilai tidak akan mampu memenuhi lonjakan permintaan tersebut.

Dengan memiliki pabrik sendiri, Tesla dan SpaceX tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pemasok eksternal seperti TSMC atau Samsung. Mereka bisa memproduksi chip berdaya tinggi yang dirancang khusus untuk mengoperasikan pusat data berbasis luar angkasa milik SpaceX, sekaligus chip efisien untuk perangkat keras konsumen.

Kontroversi Insentif Pajak dan Kebutuhan Air

Di balik ambisi teknologi tersebut, proyek ini memicu perdebatan sengit di tingkat lokal. Ratusan warga menghadiri rapat dewan daerah pada Rabu, sehari sebelum pengumuman resmi, untuk mempertanyakan paket keringanan pajak senilai jutaan dolar yang diberikan kepada proyek ini. Mereka juga menyoroti kurangnya transparansi dalam negosiasi antara pemerintah daerah dan perusahaan.

Meski demikian, pihak sekolah setempat menyambut positif proyek ini. "Kami percaya kesepakatan ini akan memperkuat distrik kami, memperluas peluang, dan mempersiapkan siswa kami untuk masa depan mereka," ujar Dr. Sarah Borowicz, Superintendent Anderson-Shiro Consolidated Independent School District, dalam pernyataan resmi yang dirilis kantor Gubernur Texas. "Ada momen-momen penting dalam kehidupan sebuah distrik sekolah, dan ini adalah salah satunya."

Soal lingkungan, SpaceX berkomitmen memakai air dari Gibbons Creek Reservoir untuk kebutuhan operasional pabrik, bukan mengambil air tanah lokal. Langkah ini diambil untuk mengurangi dampak ekologis di wilayah yang rawan kekeringan tersebut.

Bagi pengamat industri, Terafab adalah ujian terbesar Musk di luar sektor otomotif dan antariksa. Jika berhasil, pabrik ini bisa mengubah peta persaingan industri chip global yang selama ini didominasi oleh pemain Asia. Namun, tantangan regulasi dan logistik di Texas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top