Diskusi di IAIN Ternate Soroti Bahasa Ternate sebagai Rumah Ingatan, Yayasan Pustaka Pangaji Siap Kawal Regulasi

Penulis: Hendri Saputra  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:36:31 WIB
Suasana diskusi pelestarian Bahasa Ternate di Studio FEBI IAIN Ternate, Kamis (6/8/2026).

TERNATE — Upaya menjaga eksistensi Bahasa Ternate tidak boleh berhenti pada seremoni belaka. Lewat diskusi bertajuk "Bahasa Ternate, Rumah Ingatan, Cermin Masa Depan", Yayasan Pustaka Pangaji Kie Raha mencoba merumuskan langkah konkret agar bahasa ibu ini tetap hidup di tengah gempuran era digital.

Acara yang berlangsung di Studio FEBI IAIN Ternate pada Kamis (6/8/2026) itu menghadirkan akademisi, budayawan, dan perwakilan pemerintah. Mereka sepakat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan media pewarisan nilai dan identitas kolektif masyarakat.

Rekomendasi Konkret, Bukan Sekadar Wacana

Direktur Yayasan Pustaka Pangaji Kie Raha, Andri Idrus, menegaskan bahwa forum ini akan menjadi agenda berkelanjutan, bukan acara sekali jalan. Pihaknya berkomitmen mengawal hasil diskusi hingga ke tataran teknis dan regulasi.

"Kami tetap akan mengelola kegiatan ini agar ada kesinambungan dan dapat berjalan secara teratur. Kami berkomitmen melihatnya dari sisi aturan dan akan mengawal sampai pada hal-hal teknis," ujar Andri Idrus kepada cermat, Kamis (6/8/2026).

Ia berharap diskusi tersebut mampu melahirkan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti. "Kami, Yayasan Pustaka Pangaji juga akan memberikan rekomendasi dari hasil diskusi ini. Karena itu, kami berharap ada banyak hal yang bisa kita dorong bersama," katanya.

Pemerintah Buka Ruang Partisipasi Masyarakat

Kasubag Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Stenly Reigen Loupatty, menegaskan bahwa bahasa dan tradisi lisan merupakan bagian dari objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Pemerintah, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi ruang partisipasi masyarakat.

"Dalam Undang-Undang tentang Kebudayaan, salah satu objek kebudayaan adalah tradisi lisan. Dalam semangat yang sama, kami mencoba memfasilitasi dan membuka ruang kepada masyarakat," ujarnya.

Dukungan tersebut diwujudkan tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga bantuan pendanaan untuk kegiatan pelestarian budaya yang diinisiasi masyarakat. BPK Maluku Utara menilai kebudayaan sejatinya tumbuh dari akar rumput, bukan dari lingkungan birokrasi semata.

Tantangan Modernisasi dan Hilangnya Penutur Muda

Perubahan sosial dan derasnya arus informasi menjadi tantangan terbesar bagi keberlangsungan Bahasa Ternate. Stenly mengingatkan bahwa generasi muda kini lebih akrab dengan bahasa asing atau bahasa Indonesia baku, sehingga posisi bahasa daerah semakin terpinggirkan.

"Orang yang tahu adat, dia akan menjadi orang yang beradab. Karena itu, kita tidak boleh melupakan Bahasa Ternate," pungkasnya.

Melalui forum ini, Yayasan Pustaka Pangaji Kie Raha berharap muncul kesadaran kolektif bahwa kehilangan bahasa berarti kehilangan cara pandang dunia yang diwariskan leluhur. Pelestarian Bahasa Ternate, pada akhirnya, adalah upaya menjaga "rumah ingatan" bagi generasi mendatang.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: cermat.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top