TERNATE — Rizal Marsaoly menegaskan bahwa hukum tidak hanya menjadi materi hafalan di bangku kuliah, melainkan harus hadir dalam setiap kebijakan publik yang menyentuh kehidupan warga. Menurutnya, kontribusi pemikiran dari kalangan akademisi sangat dibutuhkan untuk memastikan produk hukum daerah berpihak kepada kepentingan masyarakat.
"Pemerintah daerah membutuhkan pemikiran yang kritis dan konstruktif dari calon-calon penegak hukum serta praktisi hukum masa depan. Kemitraan antara akademisi, mahasiswa, dan pemerintah kota merupakan kunci terciptanya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berkeadilan," ujar Rizal dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).
Rizal mengungkapkan, Pemerintah Kota Ternate saat ini terus berupaya menghasilkan berbagai produk hukum daerah, termasuk Peraturan Daerah (Perda). Ia menekankan bahwa regulasi yang disusun tidak hanya sekadar memenuhi aspek formalitas, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Nilai-nilai kearifan lokal disebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penyusunan setiap kebijakan. Hal ini dinilai penting agar regulasi yang diterbitkan dapat diterima dan dijalankan dengan baik oleh seluruh lapisan warga di Kota Ternate.
Para mahasiswa baru diminta untuk mulai membangun kepedulian terhadap persoalan daerah sejak masa orientasi perkuliahan. Rizal menilai, mahasiswa hukum memiliki posisi strategis untuk menjadi agen perubahan yang memberikan solusi atas berbagai persoalan hukum dan kebijakan publik di Maluku Utara.
"Mahasiswa hukum tidak hanya dipersiapkan menjadi sarjana, tetapi juga diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan hukum dan kebijakan publik di daerah," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rizal juga menekankan pentingnya penerapan prinsip good governance. Transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik menjadi tiga pilar utama yang harus dipegang teguh dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Rizal mendorong terbangunnya sinergi yang lebih erat antara Pemkot Ternate dan Fakultas Hukum Unkhair. Kerja sama yang bisa dijajaki meliputi kolaborasi riset, program pengabdian kepada masyarakat, hingga penyediaan lapangan magang bagi mahasiswa.
Sesi kuliah umum berlangsung interaktif. Sejumlah mahasiswa baru terlihat antusias mengajukan pertanyaan seputar tantangan penegakan hukum di tingkat daerah, implementasi kebijakan publik, hingga peluang kolaborasi antara kampus dan pemerintah.
Mengakhiri kegiatan, Rizal berpesan agar mahasiswa memanfaatkan masa perkuliahan untuk memperkuat kompetensi, integritas, dan kepedulian terhadap pembangunan daerah. Usai memberikan kuliah umum, ia bersama jajaran civitas akademika meninjau Perpustakaan Tara No Ate sebagai bagian dari rangkaian program Menyapa Mahasiswa Baru.