MALUKU UTARA — Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang tercatat 5,12% tidak serta-merta diikuti oleh penguatan IHSG. Kondisi ini menciptakan disparitas antara kinerja fundamental emiten dan valuasi di pasar, yang kerap menjadi titik masuk bagi investor jangka panjang.
Alokasi investasi Danantara senilai US$ 7 miliar menjadi salah satu katalis terbesar yang ditunggu pasar pada 2026. Dana tersebut diarahkan untuk proyek hilirisasi nasional, yang diperkirakan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi pertumbuhan ekonomi dan permintaan komoditas.
Beberapa emiten dinilai akan menjadi penerima manfaat utama dari belanja modal ini:
Koreksi harga yang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar dinilai tidak sejalan dengan fundamentalnya yang solid. Emiten perbankan seperti BBNI, BMRI, dan BBCA masih menjadi tulang punggung industri keuangan dengan profitabilitas terjaga dan kualitas aset yang baik.
Bagi investor jangka panjang, valuasi yang terdiskon ini menjadi peluang untuk membangun posisi sebelum memasuki musim pembagian dividen awal 2026. Sektor konsumen seperti INDF, ICBP, dan UNVR juga tetap menarik karena dominasi mereknya di pasar domestik, sementara ADRO, UNTR, dan ANTM menawarkan eksposur terhadap sektor energi dan hilirisasi.
Bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi, pergerakan harga beberapa saham menunjukkan sinyal teknikal yang patut dicermati. PGEO berada di area beli Rp900–Rp1.035 dengan target harga Rp1.100–Rp1.130, didorong sentimen positif terhadap energi baru terbarukan. Batas kerugian (stop loss) disarankan di level Rp855.
Sementara itu, MEDC berpotensi menguat apabila harga minyak dunia meningkat akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah. Area akumulasi saham ini berada di kisaran Rp1.085–Rp1.170 dengan target Rp1.245–Rp1.280. Adapun KPIG menunjukkan lonjakan volume transaksi yang mencerminkan minat beli pelaku pasar, dengan area beli Rp72–Rp79 dan target Rp84–Rp86.
Selain faktor makro, siklus musiman sektor konsumen menjelang hari raya keagamaan kerap menjadi pemicu penguatan harga saham consumer goods. Kombinasi antara momen ini dan program hilirisasi pemerintah diharapkan mampu mendorong indeks keluar dari tren sideways.
Strategi portofolio yang disarankan adalah membangun fondasi utama dari saham-saham blue chip yang memberikan keseimbangan antara pertumbuhan, stabilitas, dan yield dividen. Sisanya, alokasikan porsi lebih kecil untuk saham trading dengan disiplin ketat terhadap target keuntungan dan batas kerugian.
Investasi mengandung risiko.