MALUKU UTARA — Laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan Pupuk Indonesia naik 51 persen menjadi Rp59,67 triliun, dengan EBITDA Rp14,28 triliun atau tumbuh 140 persen. Direktur Utama Rahmad Pribadi menyebut capaian ini bukan sekadar soal angka. "Keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah," ujarnya dalam keterangan resmi.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB sekaligus Ketua Gerakan Petani Nusantara (GPN), Suryo Wiyono, menegaskan bahwa transformasi BUMN pangan harus bermuara ke petani. Menurutnya, laba besar tidak ada artinya jika sarana produksi seperti pupuk masih langka atau mahal.
"Pupuk itu sarana produksi yang utama. Bagi pertanian, pupuk harus mencukupi agar produksi tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura terjaga. Bagi petani, yang penting pupuk tersedia dan terjangkau secara harga," kata Suryo saat diwawancarai dari Jakarta.
Ia menyebut biaya pupuk bisa mencapai 30 persen atau lebih dari total biaya produksi padi, tergantung wilayah. Karena itu, efisiensi yang dilakukan perusahaan harus diterjemahkan menjadi manfaat langsung di tingkat petani.
Data menunjukkan penyaluran pupuk subsidi meningkat dari 6,18 juta ton pada 2023 menjadi 8,11 juta ton pada 2025. Di saat bersamaan, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk turun hingga 20 persen. Langkah ini dibarengi digitalisasi lewat aplikasi i-Pubers dan Command Center untuk mempermudah proses tebus pupuk.
Di sisi lain, Pupuk Indonesia juga mengembangkan bisnis non-subsidi seperti metanol dan clean ammonia, serta menerapkan kontrak bahan baku untuk mengantisipasi fluktuasi harga global. Perusahaan juga menyiapkan revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan.
Suryo mengingatkan, proses streamlining yang didorong Danantara Indonesia jangan sampai mengganggu fungsi utama BUMN pangan. "Yang penting bukan hanya bagaimana perusahaan menjadi lebih ramping, tetapi bagaimana fungsi untuk mendukung pertanian dan mendukung petani tidak terganggu," tegasnya.
Dengan laba yang moncer dan distribusi pupuk yang terus diperbaiki, tantangan ke depan adalah memastikan setiap ton pupuk bersubsidi benar-benar sampai ke tangan petani yang membutuhkan. Bukan hanya menjadi catatan di laporan keuangan.