HALMAHERA TENGAH — Lima unit bus sekolah berwarna kuning mulai beroperasi menjemput dan mengantar pelajar di dua kabupaten di Halmahera. Layanan ini menjangkau Desa Kobe, Sawai Itepo, dan Lukulamo di Halmahera Tengah, serta Desa Jikomoi, Waijoi, Saolat, dan Minamin di Halmahera Timur.
Sebelum ada program ini, siswa dari jenjang SD hingga SMA harus menumpang kendaraan pick-up atau bus Damri yang melintas. Jika tidak ada tumpangan, mereka berjalan kaki hingga satu jam untuk sampai ke sekolah.
Untuk wilayah Halmahera Tengah, bus melayani rute dari Gereja Immanuel Baru menuju SMP N 17 Halmahera Tengah, serta dari SD Lukulamo ke SMP N 9 dan SMK 2 Halmahera Tengah. Penjemputan dimulai pukul 06.00 WIT, sedangkan antar-jemput pulang pukul 13.00 WIT.
Sementara di Halmahera Timur, bus menjemput siswa dari Desa Jikomoi, Waijoi, Saolat, dan Minamin menuju SMA N 4, SMK 2, dan SMP N 13 Wasile. Pada hari Jumat, penjemputan pulang lebih awal, yakni pukul 11.30 WIT.
Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub menyampaikan apresiasi atas inisiatif perusahaan. Menurutnya, bantuan ini menjawab kebutuhan mendesak di Kecamatan Wasile Selatan yang warganya tinggal berjauhan dari sekolah.
“Bantuan bus sekolah ini sangat penting, sangat dibutuhkan terutama wilayah Wasile Selatan. Karena, jarak antara rumah-rumah siswa ke sekolah sangat jauh,” ujarnya.
Kepala SMP N 17 Halmahera Tengah, Dedy C.H. Kaijely, menyebut bahwa keterlambatan siswa yang mencapai 30 menit hingga satu jam kini bisa diatasi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah desa untuk menjaga kedisiplinan siswa hadir tepat waktu di titik penjemputan.
“Ini merupakan bentuk partisipasi nyata perusahaan dalam mendukung pendidikan,” katanya.
Kepala SMA N 4 Halmahera Timur, Afendi A. Gani, berharap pemerintah daerah dapat merawat armada bus yang pengelolaannya kini diserahkan ke pemda. Dengan pemeliharaan yang baik, layanan ini diharapkan berkelanjutan.
Inggrit Herat, siswi kelas XII C SMA N 4 Halmahera Timur, mengaku sangat terbantu. Sebelumnya, ia hampir setiap hari harus menunggu kendaraan yang lewat atau bergantung pada orang tua untuk mengantar.
“Dengan adanya bus sekolah, siswa tidak lagi harus menunggu tumpangan kendaraan yang melintas atau bergantung pada orang tua untuk mengantar mereka ke sekolah,” tambah Afendi menirukan keluhan para muridnya.
Lima unit bus yang disediakan IWIP ini dijadwalkan beroperasi setiap hari Senin hingga Sabtu, dengan rute yang telah disepakati bersama pihak sekolah dan pemerintah desa.