MALUKU UTARA — Balapan Moto3 di Sachsenring, Jerman, akhir pekan lalu mempertemukan dua pebalap Asia Tenggara di posisi bersaing. Veda Ega Pratama finis lebih dulu dari Hakim Danish, pebalap MSi asal Malaysia.
Hakim Danish mengakui Veda Ega tampil lebih baik di atas lintasan Sachsenring. Ia menyebut ada faktor spesifik yang membuatnya tak bisa memaksimalkan potensi motor.
“Saya kehilangan kontak dengan grup depan di beberapa tikungan kritis. Veda Ega punya ritme yang lebih stabil sepanjang balapan,” ujar Hakim Danish dalam pernyataan usai lomba.
Pebalap Malaysia itu menjelaskan perbedaan pendekatan jadi kunci hasil akhir. Veda Ega disebut lebih agresif di sektor awal, sementara Hakim Danish memilih bermain aman.
“Saya coba menghemat ban untuk akhir balapan, tapi ternyata celahnya sudah terlalu besar. Veda Ega mengambil risiko di awal dan itu berhasil,” tambahnya.
Kemenangan Veda Ega di Sachsenring memperkuat posisinya di papan atas klasemen Moto3 2026. Hakim Danish justru kehilangan poin berharga yang bisa mendongkrak peringkatnya.
Selisih waktu finis keduanya tercatat tipis, namun cukup membuat Hakim Danish kehilangan momentum. Balapan berikutnya di Assen, Belanda, akan jadi kesempatan perbaikan.
Tim MSi tak menyalahkan Hakim Danish. Manajemen menilai pebalapnya sudah menjalankan instruksi, meski hasil tak sesuai target.
“Kami evaluasi data telemetri. Ada beberapa sektor yang kecepatannya turun drastis. Ini yang akan kami benahi sebelum Assen,” ucap perwakilan tim MSi.
Di sisi lain, Veda Ega Pratama makin percaya diri setelah finis di depan rivalnya. Pebalap Indonesia itu menunjukkan konsistensi yang mulai sulit diikuti lawan-lawannya.
Kemenangan di Sachsenring jadi modal berharga untuk seri berikutnya. Persaingan Moto3 2026 masih panjang, dan Veda Ega jelas ingin terus mendominasi.