MALUKU UTARA — Sebanyak enam Super Tiket diperebutkan dalam ajang pencarian bakat bergengsi ini. Kompetisi berlangsung di tiga kategori usia, yakni U-11, KU-11, dan KU-12, untuk sektor putra dan putri. Ratusan atlet muda dari berbagai daerah di Sumatra dan sekitarnya turut ambil bagian.
Yuni Kartika, peraih medali perak Asian Games 1994 yang kini menjadi bagian dari tim pencari bakat PB Djarum, menyoroti langsung perkembangan ini. Menurutnya, semangat melahirkan atlet baru tidak pernah padam meski audisi di sejumlah pulau sempat terhenti dalam beberapa tahun terakhir.
"Kami cukup gembira melihat ekosistem bulutangkis masih tetap berjalan dengan baik di luar Jawa. Poin utamanya adalah bagaimana potensi-potensi yang ada di daerah tetap menjadi incaran bagi kami," kata Yuni dalam keterangan persnya di Pekanbaru.
Ia menambahkan bahwa regenerasi atlet di daerah tetap berjalan. Hal ini menjadi sinyal positif bagi masa depan bulutangkis nasional yang membutuhkan suplai pemain dari seluruh pelosok Indonesia.
Dalam memantau talenta putri yang melaju ke babak semifinal, Yuni mencatat masih banyak aspek dasar yang perlu diperbaiki. Namun, ia memberikan apresiasi kepada beberapa klub di luar Jawa yang telah menerapkan standar pelatihan dasar yang benar.
"Untuk kategori putri, saya melihat ada tiga hal yang membuat seorang anak terlihat istimewa, yaitu footwork yang efektif, bakat membidik titik pukul yang pas, serta kemandirian karakter di lapangan," ungkapnya.
Yuni menekankan bahwa kemandirian menjadi poin penilaian yang krusial. Ia mencari anak yang tidak terus-menerus menengok ke pelatih, tetapi mampu membaca situasi dan mengambil keputusan sendiri saat menghadapi lawan.
"Karakter atau kemandirian seperti ini sangat kami nilai," tegas Yuni.