MALUKU UTARA — Angka 153,72 ton itu setara dengan lebih dari 1,5 juta keping emas batangan 100 gram. Volume tersebut dikelola Pegadaian melalui berbagai lini produk, mulai dari deposito emas, titipan emas korporasi, hingga pinjaman modal kerja berbasis emas. Perusahaan juga mengoperasikan fasilitas penyimpanan vault berstandar internasional dan pabrik pengolahan emas melalui anak usahanya, Galeri 24.
Di bawah naungan BPI Danantara, Pegadaian memperkuat posisinya sebagai satu-satunya bank emas di Indonesia yang memiliki rantai nilai paling lengkap. Model bisnis ini tidak hanya mencakup perdagangan dan simpanan emas, tetapi juga pengolahan komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah.
Langkah ini selaras dengan program Asta Cita pemerintah yang mendorong hilirisasi komoditas. “Kami memastikan emas Indonesia tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan bertransformasi menjadi produk yang menggerakkan ekonomi domestik,” demikian pernyataan resmi perusahaan.
Pegadaian mengandalkan edukasi massif untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa emas adalah aset investasi produktif dan likuid, bukan sekadar perhiasan simpanan. Strategi itu dijalankan lewat produk cicil emas dan tabung emas yang bisa diakses melalui aplikasi Tring!.
“Kami terus berupaya memberikan produk terbaik dan relevan. Mulai dari Deposito Emas, Titipan Emas Korporasi, Pinjaman Modal Kerja Emas, hingga perdagangan emas,” ujar Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero), Selfie Dewiyanti.
Setelah menguasai pasar domestik, Pegadaian menyiapkan langkah ekspansi ekosistem bank emas ke kancah internasional. Infrastruktur vault berstandar global dan pabrik pengolahan yang sudah beroperasi menjadi modal utama untuk bersaing dengan bank emas di negara lain.
Belum ada detail jadwal atau negara tujuan ekspansi yang diumumkan. Namun, sinyalemen dari manajemen menunjukkan bahwa Pegadaian tidak hanya akan menjadi pemain lokal, melainkan juga pemasok dan pengelola emas lintas batas.
Investasi mengandung risiko.