HALMAHERA UTARA — Guncangan gempa bumi magnitudo 6,2 yang berpusat di Barat Daya Pulau Doi, Maluku Utara, dilaporkan terasa kuat oleh warga di sejumlah kabupaten/kota. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada pada kedalaman 100 kilometer dengan mekanisme pergerakan geser naik atau oblique thrust fault.
BMKG mencatat intensitas guncangan tertinggi mencapai skala III-IV MMI di wilayah Halmahera Utara. Pada skala ini, getaran tidak hanya dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, tetapi juga berpotensi menyebabkan gerabah pecah, jendela berderik, dan dinding berbunyi.
Guncangan dengan skala III MMI turut dirasakan masyarakat di Ternate, Tidore, Sanana, dan Morotai. Sementara itu, warga di Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango melaporkan merasakan getaran pada skala II hingga III MMI.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini tergolong sebagai gempa bumi menengah. Fenomena ini dipicu oleh aktivitas deformasi batuan yang terjadi di dalam lempeng Laut Maluku.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust fault)," terang Wijayanto dalam keterangan tertulis yang diterima Malutpost.id.
Meski guncangan terasa cukup luas dan kuat di beberapa titik, BMKG secara tegas menyatakan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 ini tidak memiliki potensi untuk memicu tsunami. Pihaknya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.