MALUKU UTARA — Angka tersebut terdiri dari 236.451 unit sepeda motor listrik, 119.638 unit mobil penumpang listrik, 798 unit bus listrik, dan 537 kendaraan komersial listrik. Namun, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) aktif per Desember 2025 baru mencapai 4.778 unit di 3.093 lokasi. Ketimpangan antara populasi kendaraan dan infrastruktur pengisian ini menjadi salah satu hambatan psikologis utama bagi calon pembeli.
Yannes menjelaskan, perpindahan ke EV bukan sekadar mengganti sumber energi, melainkan pergeseran gaya hidup yang lebih luas. "Ini merupakan pergeseran gaya hidup yang lebih luas, dari awalnya kendaraan hanya sekadar mobilitas dan gaya hidup menuju ekosistem hidup berbasis teknologi dan keberlanjutan," ujarnya saat dihubungi Minggu (10/5).
Pengguna didorong untuk lebih sadar terhadap konsumsi energi dan mau tidak mau dipaksa merencanakan perjalanan secara strategis. Kebiasaan mengisi daya di rumah atau kantor menjadi rutinitas baru yang menggantikan kunjungan singkat ke pompa bensin.
Dari sisi keunggulan, Yannes menyebut EV unggul dalam akselerasi responsif, kabin minim getaran, dan biaya operasional yang hanya sepertiga dari mobil bermesin pembakaran internal (ICE) konvensional. Biaya perawatan yang lebih rendah juga menjadi daya tarik utama di tengah kenaikan harga BBM.
Meski begitu, faktor psikologis masih menjadi hambatan besar. Range anxiety atau kekhawatiran kehabisan daya di tengah perjalanan masih menjadi pertimbangan utama. "Kekhawatiran soal keselamatan baterai pada kondisi ekstrem serta harga kendaraan bekasnya yang anjlok parah tampaknya belum sepenuhnya teratasi di konteks Indonesia," ungkap Yannes.
Yannes mengungkapkan, penerimaan EV dipengaruhi faktor generasi. Gen Z menjadi kelompok yang paling reseptif, didorong kesadaran iklim dan afinitas digital yang tinggi. Milenial menerima EV sebagai pernyataan identitas modern sekaligus pertimbangan ekonomi jangka panjang.
Gen X bersikap lebih pragmatis. "Adopsi terjadi jika dan hanya jika kalkulasi biaya total kepemilikan terbukti menguntungkan," kata Yannes. Sementara era baby boomers cenderung paling skeptis karena memprioritaskan keandalan yang telah teruji.
Bagi first-time car buyer, transisi ke EV menghadirkan proposisi nilai yang kompleks. Keunggulan kenyamanan dan efisiensi biaya operasional menjadi daya tarik, namun keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan isu nilai jual kembali masih menghantui. Dengan populasi yang terus bertambah, kesiapan infrastruktur dan edukasi konsumen menjadi kunci percepatan adopsi EV di Indonesia.