JAKARTA — Pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY dengan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menghasilkan kesepakatan untuk mempercepat pembangunan di provinsi ujung utara Indonesia itu. Salah satu agenda utama adalah pengembangan Sofifi sebagai ibu kota provinsi yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar.
Menko AHY menegaskan pihaknya akan mengoordinasikan usulan tersebut dengan Bappenas, Kementerian PU, dan kementerian teknis terkait. “Kami melihat adanya visi yang kuat dan perencanaan yang matang. Kemenko Infrastruktur akan mengoordinasikan usulan ini... agar pembangunan infrastruktur, khususnya jalan strategis, dapat segera direalisasikan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dana sebesar Rp 2,9 triliun yang diajukan Pemprov Maluku Utara mencakup pembangunan jalan, perbaikan infrastruktur dasar, irigasi, hingga penanganan pascabencana. Prioritas utama adalah koridor strategis Trans Kie Raha yang menghubungkan Sofifi dengan kawasan industri Weda dan Buli.
Saat ini, akses menuju Sofifi masih bergantung pada Bandara Sultan Babullah di Ternate yang dilanjutkan dengan perjalanan laut. Kondisi ini membuat mobilitas warga dan distribusi logistik berjalan lambat.
Proyek jalan Trans Kie Raha ditargetkan memangkas waktu tempuh dari sebelumnya 3,5–5 jam menjadi sekitar 1 jam. Pemerintah optimistis konektivitas yang lebih pendek akan memperkuat distribusi logistik dan pasokan pangan menuju kawasan industri nikel di Weda dan Buli.
Maluku Utara saat ini menjadi salah satu pusat industri nikel dunia. Sekitar 100 dari 166 smelter nasional berada di wilayah tersebut, dengan kontribusi mencapai 50 persen produksi nasional. Aktivitas ekonomi yang dihasilkan mencapai hampir Rp 150 triliun per tahun.
Ke depan, pengembangan industri baterai berbasis nikel di Weda dan Buli diharapkan memperkuat posisi Maluku Utara dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia. Investasi dari mitra global pun mulai mengalir ke kawasan tersebut.
Gubernur Sherly Tjoanda memaparkan capaian pembangunan daerah yang menunjukkan tren positif, termasuk keberhasilan menekan angka stunting. Namun, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah memastikan distribusi kesejahteraan berjalan lebih merata melalui penguatan infrastruktur dasar.
Meski telah ditetapkan sebagai ibu kota provinsi secara administratif, Sofifi masih menghadapi keterbatasan serius. Mulai dari minimnya anggaran, tidak adanya pasar tradisional yang memadai, hingga aksesibilitas transportasi yang terbatas. Pembangunan jalan Trans Kie Raha menjadi salah satu solusi untuk mengintegrasikan Sofifi dengan pusat-pusat ekonomi di Maluku Utara.
Menko AHY menekankan pentingnya pendekatan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan, sejalan dengan target jangka panjang Maluku Utara untuk menjadi pusat pertumbuhan baru di kawasan timur Indonesia.