MALUKU UTARA — Wisatawan Nusantara kini semakin sering memilih destinasi luar negeri ketimbang menjelajah Indonesia sendiri. Penyebab utamanya bukan soal keindahan alam, melainkan mahalnya biaya konektivitas menuju destinasi domestik. Dengan anggaran Rp8–10 juta, banyak keluarga menilai penerbangan ke Singapura atau Bangkok lebih rasional dibanding ke Labuan Bajo atau Papua.
Data ASEAN Main Portal 2024 mencatat Indonesia memiliki 65,8 juta penumpang domestik, jauh di atas 36,1 juta penumpang internasional. Namun pada lalu lintas internasional, Indonesia masih tertinggal dari Thailand yang menembus 77,7 juta penumpang dan Singapura dengan 58,9 juta penumpang.
Ketimpangan angka itu memperlihatkan satu persoalan yang jarang dibahas terbuka: domestic leakage. Ketika wisatawan Indonesia memilih Bangkok ketimbang Bali atau Danau Toba, uang yang berpindah bukan cuma harga tiket. Hotel, restoran, transportasi lokal, atraksi, hingga penerimaan pajak ikut mengalir ke negara lain.
Konsumen modern tidak membeli tiket pesawat secara terpisah. Mereka membeli total travel experience—perbandingan antara biaya masuk, kemudahan koneksi, waktu tempuh, dan pengalaman yang didapat setelah tiba.
Di titik inilah hambatan psikologis bekerja. Ketika biaya awal menuju destinasi domestik sudah terlalu tinggi, minat wisatawan bisa gugur sebelum mereka sempat mempertimbangkan kualitas destinasi tersebut.
Penerbangan dari Jakarta ke Singapura, Bangkok, atau Ho Chi Minh City sering menawarkan frekuensi dan pilihan jadwal yang lebih banyak. Sebaliknya, menuju sejumlah destinasi domestik justru butuh biaya masuk lebih tinggi, pilihan penerbangan terbatas, bahkan koneksi tambahan.
Biaya hidup di Singapura memang lebih mahal. Hotel dan makanan bukan komponen murah. Tetapi ketika tiket pesawat sebagai entry cost relatif kompetitif, hambatan psikologis untuk memulai perjalanan jadi lebih rendah. Perjalanan domestik sering sudah terasa mahal sejak keberangkatan.
Fenomena ini disebut domestic tourism substitution. Dengan anggaran Rp8–10 juta, wisatawan tidak lagi bertanya apakah mereka mendukung produk lokal. Pertanyaan yang lebih rasional: di mana uang saya memberikan pengalaman paling maksimal?
Jika tiket Jakarta–Hong Kong atau Jakarta–Singapura pada waktu tertentu lebih murah dibanding perjalanan Jakarta menuju Papua atau Labuan Bajo, keputusan konsumen menjadi sangat rasional. Mereka membandingkan nilai.
Yang hilang bukan sekadar satu transaksi perjalanan. Multiplier effect yang seharusnya menggerakkan ekonomi di wilayah destinasi Indonesia ikut lenyap. UMKM di sekitar destinasi kehilangan potensi pendapatan, sementara daerah kehilangan penerimaan pajak.
Daya saing destinasi tidak bisa dibangun hanya dari daya tarik. Ada empat pilar yang harus berjalan bersama: attraction, accessibility, affordability, dan experience.
Keempatnya saling bergantung. Memperbaiki satu pilar tanpa menyentuh yang lain tidak akan mengubah keputusan wisatawan secara signifikan.
Persoalan harga tiket pesawat seharusnya tidak dipandang sebagai keluhan musiman. Ini persoalan strategis dalam kebijakan pariwisata nasional. Indonesia tidak lagi hanya bersaing antarprovinsi atau antardestinasi dalam negeri, tetapi sudah bersaing dengan efisiensi konektivitas negara-negara ASEAN.
Jika aksesibilitas tidak segera dibenahi, rasionalitas ekonomi akan terus mendorong wisatawan domestik mencari pengalaman dengan nilai lebih baik di luar perbatasan. Narasi "Indonesia Indah" saja tidak cukup. Keindahan tidak banyak berarti apabila secara fisik dan finansial sulit dijangkau oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Bagi traveler yang sedang merencanakan liburan, membandingkan total biaya perjalanan domestik versus internasional menjadi langkah praktis sebelum memutuskan. Informasi terkini soal rute, tarif, dan konektivitas dapat dikonfirmasi melalui maskapai atau dinas pariwisata setempat.