TERNATE — Direktorat Meteorologi Publik BMKG menyampaikan hasil pemantauan pada dasarian II Juli 2026 menunjukkan musim kemarau terus meluas. Kondisi kering mendominasi 92,93 persen wilayah Indonesia, termasuk Maluku Utara, dengan curah hujan kategori rendah.
BMKG mencatat peningkatan kecepatan angin permukaan hingga lebih dari 20 knot di sejumlah wilayah. Kondisi ini berpotensi memicu angin kencang, pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, dan mengganggu aktivitas masyarakat.
“Peningkatan kecepatan angin permukaan masih berpotensi terjadi. Kondisi itu diprakirakan berlangsung di sebagian wilayah Laut Maluku, Laut Seram, dan Laut Halmahera,” jelas Dr. Andri Ramdhani, M.Si dari Direktorat Meteorologi Publik BMKG dalam rilis resminya, Senin (27/7/2026).
Peningkatan kecepatan angin tersebut juga berpotensi memicu kenaikan tinggi gelombang laut di wilayah perairan sekitar Maluku Utara. Masyarakat pesisir dan nelayan diminta meningkatkan kewaspadaan saat melaut.
BMKG mendeteksi keberadaan Siklon Tropis Noul di Laut Filipina, tepatnya di sebelah utara Maluku Utara. Sistem ini memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan suplai uap air dan pertumbuhan awan hujan di wilayah sekitarnya.
Meski dominasi musim kemarau meluas, hujan lebat masih terjadi secara lokal di sejumlah wilayah. Pada periode 24-27 Juli 2026, hujan sangat lebat tercatat di Sumatera Utara (128 mm/hari), Sumatera Barat (116 mm/hari), Kalimantan Utara (88 mm/hari), Papua (87 mm/hari), dan Aceh (65 mm/hari).
Menyikapi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air. Warga juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan indikasi titik api.
“Masyarakat juga perlu menghindari pohon, baliho, dan bangunan rapuh saat terjadi angin kencang, serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG,” pungkas Andri Ramdhani.