JAKARTA — Buku setebal lebih dari 200 halaman itu menawarkan paradigma baru yang berbeda dari kebanyakan karya filsafat yang hanya mengulas sejarah pemikiran atau mengkritisi teori mapan. Arthuur menyusun ulang perjalanan filsafat sebagai satu rangkaian intelektual yang bermuara pada lahirnya teori SIMTOXA.
Arthuur mengaku menyusun buku ini melalui kajian mendalam terhadap pemikiran era Pra-Sokrates, Socrates, Plato, dan Aristoteles. Ia kemudian merambah filsafat modern, strukturalisme, hingga poststrukturalisme sebelum akhirnya merumuskan teori SIMTOXA.
"Teori ini lahir dari kegelisahan saya melihat filsafat modern yang cenderung menghilangkan subjek individu dalam pusaran struktur dan bahasa," kata Arthuur dalam sambutannya saat peluncuran.
Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan simbolis kepada Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti, Ph.D. Langkah itu menjadi bentuk dukungan institusi terhadap lahirnya karya akademik yang berorientasi pada pengembangan teori dan inovasi keilmuan.
Prof. Angel Damayanti menyebut buku ini sebagai kontribusi konkret dari akademisi UKI dalam memperkaya khazanah filsafat di Indonesia. "Kami berharap teori SIMTOXA bisa menjadi rujukan baru, tidak hanya di kampus, tetapi juga di ruang publik," ujarnya.
Berbeda dari buku filsafat pada umumnya, SIMTOXA: Subjek Individu sebagai Kebenaran tidak sekadar membeberkan sejarah pemikiran. Arthuur justru menawarkan satu kerangka baru yang menempatkan subjek individu sebagai pusat kebenaran, bukan sekadar produk dari struktur sosial atau bahasa.
Buku ini, kata Arthuur, adalah hasil perjalanan intelektual panjang yang ia jalani selama bertahun-tahun. Ia berharap teori SIMTOXA bisa menjadi alternatif bagi para mahasiswa dan akademisi yang ingin memahami filsafat dari sudut pandang yang lebih membumi.
Arthuur Jeverson Maya adalah putra asli Halmahera Barat, Maluku Utara, yang kini mengajar di UKI. Latar belakangnya sebagai anak daerah yang berhasil menembus dunia akademik nasional menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan kariernya.
Peluncuran buku ini diharapkan bisa memotivasi generasi muda Maluku Utara untuk lebih serius menekuni dunia keilmuan, terutama filsafat yang kerap dianggap elitis dan sulit diakses. "Saya ingin membuktikan bahwa anak Halmahera Barat juga bisa melahirkan teori," kata Arthuur.